hello

hello

bio

Saturday, January 11, 2014

kepada mimpi.

maaf, aku tidak tahu lagi harus menuangkannya kepada siapa.

maaf, kini aku menulis lagi.

maaf. ntahlah. maaf.

mungkin terlalu absurd, mungkin terlalu, entah, terlalu. aku serasa speechless sebenarnya, walaupun sebenarnya di kepalaku tak terhitung lagi aksara. tak bisa ditimbang seberapa berat mataku untuk membuka. ia hanya meminta dilepaskan. tangis tangis tanpa suara.

kesakitan benar. sungguh, kesakitan benar.

kepada mimpi. selama ini sulit bagi aku untuk bercerita secara apik mengenai mimpi. sementara aku sendiri nggak ngerti. aku hanya memungut mungut kutipan dari orang-orang bijak, orang-orang gagal, orang-orang berhasil, orang-orang yang gagal lalu berhasil, atau orang yang seakan-akan berhasil. kata kata tentang "mimpi" tak pernah absen merasuk kedalam otak aku. mendengar kata "mimpi", aku terpanggil. mataku bersemangat. semesta mencatat. sebegitu lah dahsyatnya, sebegitulah semestinya.

*aku senang aku bisa menulis lagi. sumpah.*

jadi ceritanya, fani, apa yang terjadi?

apa yang terjadi?