hello

hello

bio

Friday, May 15, 2015

Kacamata

pic source

aku ingat sekali, waktu itu hari pertama aku berkumpul dengan kelompok ospek fakultasku, atau lebih dikenal dengan istilah "Unit". di hari pertama itu, kami semua sekitar 30 orang duduk melingkar, diminta untuk memperkenalkan diri masing-masing. kami diminta untuk menyebutkan nama, jurusan, asal, dan yang paling menarik, kami diminta untuk memikirkan satu benda yang mendeskripsikan diri kami secara keseluruhan.

saat itu, aku menjawab aku adalah sebuah kacamata. karena aku akan membantu orang dengan segala kekurangan dan pandangan tidak jelas yang mereka miliki, tanpa berusaha mengobatinya.

kali ini analogi 'kacamata' yang aku ciptakan sendiri itu menghantuiku. mungkin itu memang benar. aku sendiri adalah pengguna kacamata. se-sering dan se-lama aku menggunakan kacamata, mataku tidak akan sembuh. saat aku melepas kacamataku, semuanya blurry. dengan kacamata lah aku bisa merasa lengkap, normal, seperti orang-orang lain yang bisa melihat dengan jelas. kacamata hanya membantuku, namun tidak mengobatiku.

namun ada kalanya, aku melepas kacamataku. secara teoritis, melihat melalui kacamata itu melelahkan. entahlah dengan pergerakan otot siliaris atau apa yang membuat demikian. ada kalanya aku biarkan aku melihat dengan tidak jelas. aku biarkan mataku menyipit saja saat ingin melihat sesuatu. aku menikmati kekurangan itu. aku hanya ingin...untuk tidak dibantu.

mungkin itu yang terjadi. se-ingin-ingin apapun sebuah kacamata membantu penggunanya yang melihat dengan tidak jelas, tetap saja, saat penggunanya tidak ingin menggunakannya, ia tidak bisa melakukan apa-apa. mengutip dari puisi Kurniawan Gunadi yang berkata  " Ada kalanya kita ingin dibiarkan, tidak ditanyai, bahkan tidak perlu dipedulikan. Kita hanya ingin demikian meski tanpa alasan. "


ya, ada kalanya demikian. ingin dibiarkan, tidak ditanyai, bahkan tidak perlu dipedulikan. aku sendiri pernah mengalami menjadi sebuah 'kacamata' maupun seorang 'pengguna'. saat menjadi seorang 'pengguna', 'kacamata' ku terus mempedulikanku dan menawarkan bantuannya. aku menepisnya. aku bahkan merasa sangat jahat saat aku meminta 'kacamata'ku untuk pergi. aku tahu betapa besar niatnya untuk membantuku, dan betapa bertanya-tanyanya ia melihatku yang seperti itu. tapi, aku hanya ingin sendiri. mengatasi kelelahanku dan segala kekuranganku dalam kesendirian. aku hanya ingin seperti itu, meski tanpa alasan.


saat menjadi seorang 'kacamata', memang benar. aku kalut dengan segala keinginanku untuk membantu 'pengguna'ku. aku benar-benar sangat ingin membantunya. aku merasa sedih, aku merasa aku mampu namun tak berguna. mampu untuk membantunya, namun semuanya percuma. tidak ada gunanya aku membantu seseorang yang tak ingin dibantu. aku ditepis. aku merasa tak berguna. aku tak bisa melakukan apa-apa. namun memang harus ku mengerti. memaksa 'pengguna'ku untuk terus menggunakanku, malah membuatnya semakin terbebani. sederhananya karena ia melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan. sebagai 'kacamata' yang tidak terpakai, aku hanya bisa menunggu. menunggu 'pengguna'ku membutuhkanku lagi.

saat ini, aku adalah sebuah 'kacamata'.

mungkin 'pengguna'ku bisa saja merasa tidak membutuhkan 'kacamata' lagi, belum lagi apabila ia menemukan 'kontak lensa' atau memiliki uang banyak untuk melakukan operasi lasik (?). lagi-lagi, aku hanya bisa menunggu. sejuta pertanyaan yang kumiliki, aku simpan sendiri. menyiksa sekali memang, tapi, yasudahlah. tugasku hanya membantu. digunakan atau tidak, semua terserah 'pengguna'ku. aku hanya bisa menjanjikan kalau aku selalu ada. di kondisi apapun. di kekurangan yang bagaimanapun.

semoga semua akan baik-baik saja. amin.

Thursday, May 7, 2015

sadomasokis?

hai. halo. hai.

hai?

hai! anggap aja tadi aku ngucapin hai dengan agak sedikit ragu kalau laman ini (masih) ada yang buka. sebenernya ada hal lain yang harus aku lakuin selain menulis blog. mungkin memancing atau mencuci beras. tapi yasudahlah, semua udah terjadi. i'm in the station ladies and gentlemen!

latar menulis hari ini adalah malamnya jogjakarta yang kuhabiskan di kamar saja, Asrama Bulaksumur Residence. walaupun aku sendirian, tapi rasanya udah nggak mungkin kamar ini mencicipi keheningan. apalagi malam-malam belum "malam" seperti jam segini. beh. sekarang? lagi bising-bisingnya marching band ugm latihan di lapangan dekat asramaku. dari lantai bawah sayup-sayup terdengar orang nge gitar. join dong! *ah elu siapa* *bubar bubar*

sedikit intermezzo..hari ini teman-temanku meninggalkanku karena mereka sedang jalan jalan! yaaaaaaa okeeeeyyyyy. alasan kenapa aku ga ikut adalah..mereka pergi nonton the avengers, which i already watched weeks ago. sebenernya mereka mutung, trus bales dendam, dan bareng bareng nonton yang 3D! malem ini. yaaaaa okeeeeyyy. well maybe i just need a bit of quality time for myself, sitting alone and write. still my favorite stuff of all.

untuk malem ini aku kurang jago intermezzo, jadi...mau bicarain apa? ga mau panjang panjang banget sih. i'm just thinking about...how people treat their sickness by being more..in pain? 
maksudku, kalian pernah ga sih, lagi sedih, terus malah makin dengerin lagu sedih? pernah nggak udah kena flu, tapi malah makin seneng minum es? kalian merasa sakit, tetapi malah cenderung memperburuk keadaan? pernah? pernah?