hello

hello

bio

Thursday, September 8, 2016

Oh, God. I want to learn everything in this world


Learning never exhausts the mind.
- Leonardo da Vinci
Learning never exhausts the mind.
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_learning.html
Learning never exhausts the mind.
Read more at: http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_learning.html

Halo halo hai! Sudah sebulan lebih ya aku ngga nulis. Target satu bulan satu tulisan aja rasanya susaahh banget terpenuhi, apalagi sambil menunaikan kewajiban nulis lain serta kesenangan nulis chat buat kalean kalean semua. Ea. Seperti biasa, sebenarnya banyak yang ingin aku ceritakan. Tapi, mood nulis ku yaa selalu di jam-jam segini. Sebut saja, 7 September 1.56 AM. Jam-jamnya orang buat bobok, ngedota, atau belajar.

Ngomong-ngomong soal belajar, pasti temen-temen udah nggak asing dengan kegiatan ini. Iya, nggak asing banget. Bawaannya pengen kabur dan menghindar. Kalo bisa, ngga usahlah ya belajar. Langsung pinter aja. Sama. Aku juga pengen gitu. Kalo udah ngebicarain konteks ‘belajar’ dalam kehidupan akademik, pasti sebagian besar dari kita ngerasa…ng…sedikit…males. Most of times ngebosenin. Pemandangan biasa yang aku temui kalo aku lagi ngampus adalah mahasiswa-mahasiswa yang lagi nunduk ngeliatin gadget diam-diam, tidur, ngobrol, dan sebagian kecil yang mencatat. Aku juga gitu, kok. Tapi, apa selamanya belajar itu membosankan?



Menurut KBBI, belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Kalo secara definitif, ternyata banyak yang sudah mendefinisikan apa itu belajar. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat (Wikipedia). Ya, kita sendiri tanpa dijelasin udah tahu ya apa itu artinya belajar. Tapi disini, aku pengen bahas ‘belajar’ yang mengasyikkan. Yaitu, belajar yang bener-bener datang dari diri kita sendiri.

Tuesday, July 26, 2016

7 Days Experiencing Lonesome

I've never been so alone before
In this crowded town,
I've never been this unaccompanied.
I can't imagine how it feels like drowning in the sea or get lost in the woods for months
Seven days wont sounds so long.
But it's more than enough to understand what's lonesome is all about



Saturday, July 23, 2016

FENOMENA 'AWKARIN' DAN CARA MENGHADAPINYA



Halo dan selamat datang kembali! Jika ini kunjungan anda pertama kali, silakan lihat-lihat dulu.

Hai, guys. Sebagai seorang blogger yang paham akan perannya menyuntikkan doktrin, eh, maksudnya membagikan tulisan-tulisan yang (Semoga) bermanfaat, rasanya kurang afdhol kalo aku nggak ngebahas ini di blog. Aku merasa ‘disalip’ oleh artis-artis timeline yang ngepost tentang ini dan berujung di ratusan like dan comment. Kan aku mau ugha! Tapi, berhubung tujuan utamaku menulis ini bukan untuk itu tapi malah untuk menetralisir itu, kita berpindah ruangan yang lebih luas lagi ya. Aku memutuskan untuk menulis disini, dengan harapan kalo temen-temen tertarik bisa stay tune, kalo ada LINE masuk bisa di close tab dulu.



Nah, pertama dan utama sekali, siapa sih awkarin?? Sebenernya aku nggak kenal sih. Mungkin kalian kenal. Dari citra-citra yang udah dihebohkan akhir-akhir ini, aku mengenal awkarin sebagai seorang seleb Instagram yang sering nge post foto sensasional. Sensasional disini dipersempit lagi ke hubungan cintanya. Tapi  ada foto-fotonya yang bagus dan artsy-artsy gimana gitu sih. Last but not least, lumayan ‘seru’ lah untuk di stalk orang banyak.

Oleh karena itu, awkarin ini punya banyaaaakk sekali yang memperhatikan hidupnya. Aku nggak tau dia siapa, tapi aku bisa tau kalau dia melepas suatu universitas (Walaupun aku juga ngga tau kebenarannya). Waw, gharim masjid deket rumahku aja aku ngga tau dia kuliah dimana. Dahsyat sekali lah penyebaran informasi mengenai awkarin. hanya bermodalkan kalian bobo bobo cantik sambil ngelus-ngelus layar smartphone kalian, sudah bisa untuk merasa mengenalnya. Bahkan dia pernah masuk LINEtoday! Kanal berita ‘ala-ala’ yang disediakan oleh LINE. Jadi bisa dibilang, kalo mamahku punya LINE, beliau bisa tahu siapa itu awkarin.

it's on LINE today!

Dari sana konflik mulai bermunculan. Ada yang mulai membuat suatu perkumpulan ‘haters’ dan ‘fans’ melihat tingkah Karin. Mulai banyak orang yang merespon fenomena ini. Seperti yang aku bilang tadi, ada yang bikin post panjang lebar (which is what I’m doing) tentang ini, video ‘reaction’ di youtube, ngomongin dari mulut ke mulut dan dari grup ke grup, atau hanya sekedar bikin rame di kolom-kolom komentar respon-respon tersebut.

‘Fenomena’ seperti ini sebenarnya udah sering terjadi. Dimana penyebaran informasi super cepat yang udah mengelilingi kita dan hal itu tak terelakkan. Teman-teman pasti sangat merasakan pengaruh signifikan dari hal tersebut. Namun, ada yang perlu teman-teman ketahui, bahwa “seharusnya”, itu ada batasnya. Memang batas tersebut tidak kelihatan. Tapi kalau teman-teman sudah membaca comment-comment seperti ini :

“ ngelepas fkui demi cowo, dia nakal dan bego. Fix “
“ cari sensasi bgt lol “
“ udah mati blm skrg awkarin nya? “

I believe this is the 'boundaries' we talked about. Dimana orang-orang udah keluar garis, sudah tidak tahu yang mana yang boleh dilakukan yang mana yang tidak. Dengan sangat berani aku nyatakan bahwa comment-comment diatas adalah cyber-bullying, singkat cerita tidak boleh dilakukan karena melanggar UU ITE dan batas-batas moral lainnya. Di sisi lain, hal itu juga sudah tak terbendung. Sangat mudah bagiku untuk mengambil tiga contoh saja dari comment seperti itu, karena masih banyaaaakk sekali comment lainnya. 



Oleh karena itu, disini aku mencoba memberikan tips-tips bagaimana cara menghadapi fenomena seperti ini, bahkan untuk pemilik kasus seperti awkarin sendiri.

Wednesday, June 1, 2016

What Can You Do With Your Talent?

If you've got a talent, protect it
- Jim Carrey

bismillah, semoga bisa nulis lagi

Sebenarnya agak sedikit grogi untuk berada di laman blogger.com ini lagi. Aih...sudah berapa lama ya? Jari-jari ini sudah terlalu jarang untuk menari-nari di tuts qwerty yang harus ditekan, bukan disentuh. Ya, beberapa waktu ini aku memang benar-benar terkungkung dalam dunia besar di perangkat kecil. Sebut saja sosial media dan sekitarnya. Hingga akhirnya melupakan hal-hal penting, menggunting kuku, misalnya.

Di sela-sela minggu tenang (H-8 UAS) ini aku mencoba sedikit mengambil intisari dari beberapa percakapan sehari-hari. Sebenarnya draft tulisan sudah banyakk sekali. Corat-coret brainstorming di kertas asal-asalan hanya berakhir sebagai tinta kering. Sampai akhirnya, sekarang aku ngetik tanpa kerangka. Semoga nggak ngalor-ngidul kemana-mana yah. Semoga tulisan ini bisa sampai ke tujuan.

Halah, tulisanmu pasti bagus, Fan. Kan emang udah bakat nulis.

Ngg.....
Menurut britannica.com , bakat (talent) itu adalah suatu kemampuan asli di beberapa jenis pekerjaan /keterampilan dan menyiratkan akuisisi yang relatif cepat dan mudah dari keterampilan tersebut. Singkat cerita, seseorang bisa dianggap berbakat akan sesuatu apabila ia lebih cepat memahami sesuatu tersebut daripada orang-orang pada umumnya. Satu orang bisa dikaruniai berbagai macam bakat. Ada yang bisa nulis, sekaligus nggambar dan nyanyi dalam satu waktu. Ada yang jago fisika tapi kalo renang oke ugha. Dan lain sebagainya, sehingga tak jarang kita sendiri saat melihat kelihaian teman kita sendiri akan sesuatu sampe akhirnya kesengsem, eh, kagum sendiri.

Talent is a guarantee of nothing 

Thursday, March 17, 2016

Apa lah yang kita tahu, dan apa lah yang kita tak tahu

kepada teman-teman yang sedang membaca tulisan ini..

banyak hal yang kita kira kita ketahui, padahal tidak. sebaliknya, banyak hal yang kita tidak ketahui tetapi kita merasa tahu. lebih banyak lagi adalah orang yang merasa mampu mengolah apa saja yang ia tahu dan ia tak ketahui, padahal ia sendiri bingung siapa yang ia sedang bohongi. pada intinya, sulit bagi kita untuk mengetahui sesuatu secara mutlak. apa lah yang kita tahu, dan apa lah yang kita tak tahu.

----

tulisan menunggu subuh ini aku tulis hanya untuk semacam...yah, refleksi diri. akhir-akhir ini aku agak over-activities, semacam nggak punya waktu bahkan untuk bernafas. kegiatanku seperti bermula dari 0000 sampai FFFF. aku benar-benar memutar otak bagaimana caranya semua hal ini 'sempat' aku lakukan, tanpa harus mengorbankan banyak sekali nilai kehidupan. tapi nyatanya, aku pribadi masih belum merasa berhasil menyempatkan semua tanggung jawab dikerjakan dengan baik. aku masih dalam taraf "bisa-survive-tapi-yang-dihasilkan-kadang-tak-sempurna". kadang aku berpikir apakah langkah yang ku putuskan di masa lampau yang berimbas pada hari ini adalah salah? saat aku menganggukkan kepala menandakan aku setuju mengerjakan A, B, C dan D, apakah itu hal yang harusnya tak kulakukan? ah, Allahualam.

sebenarnya yang agak menyedihkan adalah, sulit bagiku menerima bahwa orang kecewa terhadapku. setelah ku pikir-pikir, betapa aku benar-benar berusaha sekuat tenaga memperkenalkan diriku dengan "hai, aku Fani. let me do things for you. and yes, of course, I can do this right. ". beberapa orang percaya, beberapa orang bosan percaya (sepertinya), beberapa orang malah terlalu percaya. alhasil, beginilah aku. silahkan baca lagi paragraf satu.

kalau ditanya sanggup, aku sanggup. for God sake, yes, I am. selama kata "sanggup" masih dalam arti ini aku dengan yakin berkata bahwa aku sanggup. pertanyaannya adalah, apakah membebani? ya. beban. semua ini adalah 'beban' yang sanggup ku pikul. lazimnya sebuah beban, apabila kita pikul terus menerus maka kita mulai mengalami gejala-gejala kelelahan, keseleo, kesemutan dan asam urat. begitulah. namun, seberat-beratnya beban tersebut, asal aku tidak menyerah, aku sampai ke tujuan kan?

sekarang apabila kita relasikan paragraf dua dan tiga, kalian bisa dapatkan maksud dari yang ku ceritakan ini, in sya Allah ini paragraf terakhir. yang aku ingin bilang adalah, jangan lupa menyayangi dirimu sendiri. ini yang benar-benar ku lupakan, walaupun seribu satu cara dari berdoa hingga memakai gelang dengan namaku sendiri agar aku ingat bahwa aku harus menyayangi diriku sendiri. tidak apa apabila bebanmu sedikit. tidak apa apabila beberapa kali kamu mengecewakan. you can't serve everybody. you can't please everybody. di suatu fase dalam kehidupanku aku merasa bahwa 'serving' dan 'pleasing' orang-orang is my god damn passion. aku bekerja dan aku menyukainya. lambat laun aku sadar bahwa hobi bekerja itu...yah..sedikit membunuh sepertinya. mungkin teman-teman bisa mencari hobi lain yang lebih ringan, menggunting kuku misalnya.

duh, ternyata yang tadi bukan paragraf terakhir.

membahagiakan orang lain perlu. membahagiakan orang lain ada syaratnya : kebahagiaanmu terpenuhi.

salam sejahtera bagi kita semua.

P. S : i have a hidden message in this post. semoga kalian bisa dapet itu pesan apa. ciao!

Tuesday, February 2, 2016

Belajar "Kekanak-kanakan" dari Ahlinya

hai, sahabat-sahabatku. apa kabar? gimana liburannya? seruw?

akhirnya setelah sekian lama nahan hasrat pengen ngeblog, aku punya sesuatu hal untuk ditulis. sebenernya udah banyak banget tulisan siap saji yang udah aku tulis, tapi tuh kayak.."kok berat banget ya?". rata-rata tentang filosofi kehidupan atau analisa rasa kopi campur sianida punya Wayan Mirna Salihin. entah kenapa lagi males banget nge post yang berat-berat, kasian yang baca jadi harus diet lagi. setelah bersemedi mencari materi yang 'ringan', aku pun mendapat ilham.

pernah nggak sih kalian kesel banget sama orang dan mikir "dia tuh kekanak-kanakan banget sih! "

aku sering banget ngerasa demikian. gondok banget kalo udah ketemu orang yang kekanak-kanakan atau bahasa Tagalognya "childish". aku sendiri kadang ngerasa kalo aku juga kekanak-kanakan. sampe akhirnya aku mikir sendiri, emang yang kekanak-kanakan itu gimana sih? siapa yang mendefinisikannya? siapa yang mengatur perundang-undangannya?

ternyata oh ternyata, sikap 'kekanak-kanakan' yang artinya 'seperti anak-anak' ini bukan tanpa alasan. setelah beberapa minggu tinggal sama anak kecil yang tidak lain dan tidak bukan adalah adikku sendiri, aku paham akan satu hal. pemahaman ini bermula dari aku sendiri yang sering marahin adikku, dengan bilang "adek tuh kok kekanak-kanakan banget sih! ", sampe akhirnya sadar, dia emang anak-anak.

 Namanya Afifa
Umurnya 2.5 tahun
Hobinya bikin kesel


kemudian aku mengambil contoh-contoh perilaku adikku yang kekanak-kanakan banget. wah, dia emang jago banget bersikap childish. aku salut. aku ngerasa belajar dari ahlinya. berikut aku rangkum sifat-sifat dia yang 'childish' banget.