Berteman Bersamamu seperti Berpacaran

   https://www.pinterest.com/explore/song-lyrics-wallpaper/

Berteman bersamamu seperti berpacaran.

Ada yang bilang bahwa hubungan yang paling kompleks itu adalah hubungan yang terkait dengan pasangan. Pacaran. Pernikahan. Perselingkuhan. Mereka bilang hubungan seperti itu adalah klaster hubungan paling tak terdefinisikan masalah dan solusinya. Serba relatif. Serba kompulsif. Membahagiakan sekaligus mengerikan.

Mungkin bagiku tidak. Menurutku, bersamamu adalah yang paling kompleks. Iya, kamu, temanku. Wanita yang tidak ku temui sehari-hari, namun mengenalku lama sekali. Sebagian besar percakapan kita adalah tawa, sisanya adalah berbagi hidup. Tentang bagaimana berjalannya hidupku dan hidupmu. Tapi, yah, itu hanya sisanya.

Berteman bersamamu seperti berpacaran. Aku ingin tahu keadaanmu hari ini, pergi kemana kamu kemarin, kenapa kamu tidak ada di kumpul-kumpul bersama teman kita yang lain. Aku jatuh cinta pada perawakanmu, tentang kamu yang selalu ingin tahu, tidak peduli apa kata dunia tentang apa yang kamu kejar dalam hidupmu. Kamu adalah proses yang kunikmati, aku selalu ingin tahu bagaimana caramu melesat dan apa yang menyandungmu hingga jatuh. Begitu banyak kalimat yang akan ku sampaikan jika aku harus mendeskripsikanmu. Bagiku, hanya orang gila yang tidak jatuh cinta padamu. Dan dari tulisan ini sekarang mereka tahu bukan, mengapa aku bilang berteman denganmu terasa seperti berpacaran? 

Berteman bersamamu seperti berpacaran. Aku meringkuk menangis sesenggukan ketika kamu mengecewakanku. Jantungku berdetak sangat cepat ketika aku merasa dirimu dalam bahaya. Aku sangat bahagia melihat kamu yang bersorak kegirangan atas pencapaianmu. Aku adalah orang nomor satu yang merasa harus menyimak pengalamanmu dalam menemukan hal-hal baru.  Ketika aku melihatmu hancur, bagian dari diriku sudah berkeping-keping daritadi. Aku sangat senang jika aku ada kesempatan untuk membantumu. Terlebih, aku luar biasa senang atas kepedulianmu padaku. Namun, itu hanya nomor sekian dari apa yang ku harapkan padamu.
---
Percakapan kita waktu itu, hanya sedikit kalimat yang terlontar. Aku hanya mengatakan, “ Kali ini, ku hargai apapun keputusanmu. Apapun. Aku percaya sekarang telah banyak yang menjagamu. Aku hargai semua, persetan meski itu buruk atau baik menurutku. Aku akan terus mendoakanmu. “
Dan semua rasanya hening, luar biasa.
---
Berteman bersamamu terpaksa harus seperti berteman. Aku harus menahan diri untuk mengutarakan kekecewaanku karena aku takut pertemanan kita terganggu. Aku harus menahan diri untuk banyak peduli karena itu berlebihan pada sebuah pertemanan. Aku harus menghentikan diriku ketika niatku untuk ikut andil dalam hidupmu mulai mendominasi. Aku harus menampikkan kekhawatiranku dengan terus berkata dalam hati, “ tenang, dia baik-baik saja. “, karena aku akan terlihat aneh jika terus menanyakan keadaanmu. Aku hanya bisa mencari apa yang bisa membuat kita tertawa, agar bisa bercakap lebih lama bersamamu. Aku terduduk lemas, tak bisa menuntut ketika tak bisa lagi menghitung kali keberapa aku tak bisa menghabiskan waktu denganmu. Semakin lama semakin jauh, dan aku terpaksa harus membiarkan itu.

Berteman bersamamu terpaksa harus seperti berteman. Rasanya sangat rumit. Harusnya memang seperti itu, tapi kenapa aku merasa terpaksa?

Ya, aku percaya ini salahku. Aku tidak akan sedikitpun menyalahkanmu. Berteman bersamamu terasa seperti cinta bertepuk sebelah tangan. Pada akhirnya, tak ada yang bisa dipaksakan. Kita, hanya bisa terus berjalan pada jalur masing-masing yang kita pilih. Seingin apapun aku untuk kita berjalan bergandengan. Bukankah pertemanan harus seperti itu?

Yogyakarta, 23 Desember 2017, 17.09
Tulisan ini semi fiksi semi fakta.

Comments

Popular posts from this blog

roman picisan

don't judge me if you don't know me

kepada mimpi.