"Akusentris" dan Cara Menangani Self-Talk yang Tak Tertangani

Powerful self-talk is the powerful-you! 

 

Pagi yang terlihat cerah akhirnya membuat aku memutuskan buat nulis blog lagi. Hubungannya apa? Wkwkwk. Engga. Jadi, beberapa hari lalu ada temen yang nanya tentang kiprahku di blog di zaman lampau. Bikin nostalgia dan akhirnya hanya dengan kalimat " Ayo nulis lagi, Fan. Aku suka baca tulisanmu. " aku jadinya pengen nulis lagi. Jadi, hari ini ngobrolin apa?


Sedikit cerita, jadi sekitar hampir seminggu lalu aku mengalami sedikit-banyak keanehan yang terjadi di diriku sendiri. Apa itu? Awalnya, aku nggak tahu apa. Aku hanya mengatakan itu sebagai "Fani-yang-lain", atau "Fani-jahat". Ya, aku percaya bahwa segala kejahatanku berasal dari si Fani Jahat ini. 

Image result for negative thoughts 
Tapi, entah kenapa si Fani Jahat ini waktu itu berhasil mendominasi aku secara luar biasa, sampai aku mengalami kejanggalan fisik seperti muntah-muntah, histeris dan imajinasi-imajinasi aneh terkait berakhirnya kehidupan. Luar biasa rasanya. Aku sampai menarik diri dari teman-temanku, merasa begitu toxic, mood swing yang berlebihan dan lain-lain. Hft, sebenernya agak malu ya mengakui hal-hal yang seperti ini, tapi gapapa biar temen-temen bisa punya gambaran. Perasaan seperti itu berjalan hingga sekitar seminggu lamanya, sehingga pada akhirnya mengganggu produktifitasku dan, ya jelaslah, ngganggu hidupku pake 'banget'. 

Mengutip dari Majalah Intisari ed. Januari 2018, gejala dalam diri yang mengindikasikan seseorang butuh bantuan profesional salah satunya adalah merasakan perasaan yang sangat intens dan terasa sudah berlebihan sehingga mengganggu hidup dan produktifitas. Belum lagi sudah berdampak ke kesehatan fisik kayak pusing, sakit kepala dan muntah-muntah itu. Oleh karena itu, aku meluangkan waktu dan uang untuk ketemu psikolog ku yang super baik banget, ibu Melina Dian yang bisa kalian temui di Rumah Sakit Akademik UGM ^ ^

Image result for inner self

Sebelum aku menceritakan saran apa yang aku dapet dari ibu Melina, aku mungkin akan melempar tanya ke kalian? Pernah engga sih merasakan ada beberapa pihak yang ngomong ke diri kamu dan memberi berbagai macam pendapat ke diri kamu? Aku berasumsi kalian menjawab " Pernah. ", karena memang hal tersebut lazim dimiliki manusia yang disebut juga sebagai "Self Talk". Sesederhana ketika pengen beli baju trus kamu berpikir " hmm, kayaknya bagusan warna ungu ya? Eh tapi aku lebih cantik kalo pake warna merah. ". Ya, itu. Yang ngobrol di pikiranmu. Itu adalah self talk. Ngga perlu takut untuk memiliki self talk, karena seperti yang aku bilang tadi, itu sangat lazim dimiliki oleh manusia.

Nggak cuma soal remeh-temeh, si self talk ini udah kayak ngomentarin seeemua hal yang ada di hidup kamu, baik yang positif maupun yang negatif. " aku lagi males banget. ", " udahlah ngapain dateng, juga pasti pada sepi ", " ayo semangat! ntar bakal ketemu sama si dia! ", dan lain-lain. Mungkin kamu bakal sesekali 'berantem' sama self talk kamu yang bisa jadi engga masuk akal. Semua itu wajar, kecuali kamu mulai merasakan semua ini mulai 'berlebihan'.

Ya, seperti yang aku rasakan tadi. Kamu mulai di dominasi dengan self talk itu, terlebih jikalau itu merupakan self talk yang negatif. Apalagi kalau kamu mengalami kejadian-kejadian yang (terasa) mendukung 'percakapan' itu. Ketika self talk kamu ngomong " kenapa sih hidupku penuh dengan kesialan? ", ehh kamunya kepleset di tangga. Kemudian dia mengamini, " tuhkan. aku bilang juga apa. sial banget! ". Akhirnya, alam bawah sadar kamu udah percaya banget dengan percakapan itu, seperti ibu-ibu yang beriman pada gosip lambe turah. And then, semua semakin memburuk. Kamu nggak menikmati hari-hari kamu, ketus dengan orang-orang, dan semua kejadian kecil yang sedikit merugikan saja kamu sudah kutuk luar biasa.

Image result for stressed out gif 

Iya, Fan. Aku pernah merasa seperti itu, gimana cara mengatasinya? 

Artikel tentang ini udah banyak banget di internet. Cuma ketik "self talk" aja, udah keluar banyak banget. Silakan temen-temen observe sendiri, tapi aku akan menceritakan apa yang ibu Melina jelasin ke aku.

Langkah pertama, kamu sesegera mungkin menyadari 'percakapan' itu. Menyadari, kemudian mundur dari percakapan tersebut. Sebenernya, secara tidak sadar, kamu memang terlibat dengan percakapan itu, yang membuat kamu pada akhirnya percaya dan mengikuti. Simplenya, caranya seperti ini :

Pikiranmu berkata " kenapa sih semua orang ngga ada yang peduli sama aku? "

Kamu menyadari hal tersebut, dan berkata " wah, oke. I heard it. Pikiranku bilang kalau semua orang ngga peduli sama aku. " 

Sebelum kamu 'mengamini' ataupun 'menolak' pemikiran tersebut.

Langkah kedua, kamu mengkritisi pemikiran itu. Bagian ini yang cukup seru, apalagi kalian para netijen pasti seneng kan mengkritisi? Go criticize yourself! Sekreatif mungkin. Contohnya seperti ini :

Dari kalimat " kenapa sih semua orang ngga ada yang peduli sama aku? "

Semua orang? Orang yang mana?
Orang Indonesia? Orang bule? Orang yang mana?
Masa iya sih? Papa mama peduli nggak ya? Dokter peduli nggak ya?

Ngga ada yang peduli? Peduli seperti apa?
Peduli tentang apa? 
Masa iya sih? Ibu kantin masih peduli sama apa yang aku mau makan disana, kan? 


Ya, kurang lebih seperti itu. Walaupun terdengar aneh, tapi itu bisa membuktikan bahwa kalimat itu salah, kan? Kita memang pelan-pelan membuktikan bahwa pemikiran tersebut tidak sepenuhnya benar. It's okay jika self talk mu masih bisa terus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Kritisi terus, tanpa ikut emosi. Karena kita sudah terlepas dari percakapan itu sejak langkah pertama tadi.

Biasanya, di langkah kedua ini pemikiran seperti itu bisa mereda. Jika tidak mereda juga, lakukan langkah ketiga ini. Yaitu dekati dan beri pengertian bagi self talk-mu. Jika akhirnya percakapan itu draw, tidak ada hasil, pelan-pelan dekati self talk mu itu. Tidak serta merta memarahi habis-habisan " ah, mikir aja terus seperti itu! ", tapi seperti membujuk anak kecil. 


" iya...hari ini kamu merasa tidak ada yang peduli ya? tidak apa-apa...besok kita coba lihat lagi apakah beneran engga ada orang yang peduli sama kamu.. okay? "


 Iya. Beri pengertian kepada diri kamu sendiri. You deserve it.

Image result for sos technical stop observe shift


Yak, sekian langkah-langkahnya. Aku juga dibekali dengan tips-tips melakukan langkah tersebut seperti :

- Mengubah posisi tubuh ketika ingin 'berdialog' dengan self talk. Misal, ketika self talk datang kamu lagi berdiri, maka duduklah sejenak kemudian lakukan 3 langkah tadi.

- Catat dialog antara kamu dan self talk, agar lebih mudah menyadari arah pembicaraan kalian.

- Beri label yang positif ke diri kamu sendiri, seperti "aku orang yang tenang. ", " aku solutif. " dan lain-lain

- Tulis pencapaian/keberhasilan yang kamu dapat hari ini. Bahkan dari hal-hal sederhana seperti "aku bisa bangun pagi hari ini.". Ini bertujuan untuk menguatkan self talk yang positif, karena dia punya banyak fakta untuk hal-hal baik dalam diri kamu. Sangat berguna untuk mengkritisi self talk negatif kamu seperti di langkah kedua tadi.

- Latihan relaksasi, meditasi, sadar napas, dan lain-lain.


Karena tidak semua self talk itu negatif, tentu saja ada keuntungan dengan adanya self talk di pikiran kamu. Kamu bisa menyemangati diri sendiri, termotivasi, memunculkan ide-ide baru, dan lain-lain. Powerful self talk is the powerful-you! Take it as your advantage. Misalnya saja, yang paling aku senangi dari self talk ku, aku bisa menulis puisi-puisi yang bisa menggambarkan percakapan mereka di kepalaku. Aku selalu memberi judul puisi itu dengan sebutan "Akusentris". Kata tersebut tidak ada di KBBI, tapi itu menggambarkan ketika aku sedang terpusat ke diriku sendiri, seakan-akan ia adalah orang kedua. Tidak banyak seri Akusentris yang aku publish, kalian bisa baca di sini atau ada di highlight instagramku (@farohalfani).

That's it. Sekian ceritaku hari ini, I'm very open for every discussion. See you on my next post! ^ ^ 


sumber gambar :

Popular posts from this blog

don't judge me if you don't know me

Interpretasi puisi : Aku Ingin, karya Sapardi Djoko Damono

roman picisan