Regresi

 Bukan, ini bukan bahas soal kerjaan.


Hai. Aku lagi mellow dan melek, jadi kita tulis saja panjang lebar di blog. Kenapa di blog? Biar anti-viral. Hanya untuk YMTMTA (Yang Mau Tau Mau Tau Aja)

Memang hal ini sudah jadi beban pikiran selama beberapa minggu ini. Aku coba tuangkan di stories


Lah, kok makin mewek.


Balik ke kalimat paling awal. Judul cerita ini adalah 'Regresi', tapi ini bukan tentang pekerjaanku di IT. Sebagai konteks, pada proses testing untuk pengembangan aplikasi, ada yang disebut sebagai "Test Regresi", untuk memastikan bahwa pengembangan fitur baru tidak mempengaruhi fitur eksisting.

Tapi, setelah aku pikir-pikir, filosofinya masuk, sih.

Rayyan (4 tahun) kini sedang mengalami regresi. 




Kenapa aku bilang filosofinya sama seperti regresi test di IT? Karena, perubahan hidup Rayyan saat ini sangat-sangat mempengaruhi "fitur eksisting" yang sudah ada. Kini dia kembali pakai pampers saat tidur. Cara pupnya kembali ngumpet di belakang sofa seperti ketika umur 2 tahun. Ia menangis histeris tengah malam seperti ketika ia berumur 8 bulan. Lebih clingy, lebih rewel. Kemandiriannya mengalami kemunduran.

Sekarang aku coba cerita tentang kronologinya.

Selama ini, cangkir cinta Rayyan cukup settle. Kami, orangtua dan support system sekeliling kami bisa memberikan rasa aman untuknya. Namun, beberapa bulan ini, major changes datang bersamaan ke kehidupan Rayyan. 

Paling utama, pengasuh Rayyan yang sudah mengasuh dia sejak bayi, berhenti bekerja karena sakit. Lebih parah lagi, kami mengalami what-so-called "Drama ART" yang selama ini belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dalam kurun waktu 3 bulan, kami sudah 3x ganti ART. Alasannya random, dari yang pindah kerja ke pabrik sampai mendadak kawin.

Rayyan bahkan sulit untuk mengerti bahwa ternyata pengasuhnya bersifat replaceable. He learned it the hard way. Dari awalnya bingung, sampai akhirnya dia bisa bilang 

" mbak A pulang kampung ya? Ibu tolong beliin mbak baru ya. "

Mohon maap, kita bukan perdagangan manusia, nak. Gak se-replaceable itu 🙏

Alasan lainnya, banyak. Eyangbu-nya, his safe space, juga lagi ijin sejenak karena menemani adik iparku melahirkan di luar kota. Ibu-nya (alias aku), juga lagi  mengalami pergeseran dinamis di kantor. Aku rotasi role dan ada perubahan jam kerja. 

Sebenarnya, perubahan jam kerjaku cukup 'menguntungkan' Rayyan. Dari awalnya 08.00 (berangkat) - 20.00 (sampai rumah) berubah menjadi 06.30 - 18.30. Minusnya, aku jadi tidak bisa mengantarnya sekolah. Plusnya, aku di rumah lebih cepat dan bisa bermain dengannya lebih lama.

Tapi, end resultnya tidak se-menguntungkan itu. Rayyan yang sedang fragile karena kehilangan sosok-sosok yang membuatnya secure, tentu memanfaatkan keberadaanku yang agak lebih lama itu secara ugal-ugalan. Setiap sore, dia menelepon dan bertanya, " ibu pulangnya malem? ". Kalau aku jawab "agak malem", dia akan menangis. Alhasil, aku tergopoh-gopoh untuk segera pulang agak sore.


alhamdulillah, bos ngerti. #WomenSupportWomen


Tidak bisa bohong, energiku tidak sebanyak itu. Walaupun pulang lebih awal, ternyata aku masih sangat-sangat sulit untuk fully entertain Rayyan. Aku capek, tapi dia tidak mengizinkan aku sedikitpun beralih darinya. Berujung ke tindakan-tindakan yang menyebalkan. Dia akan menggigit dan memukulku kalau aku lagi melakukan hal lain selain bermain dengannya. Bahkan, ketika aku sholat pun, aku dilempar dan diganggu, seperti seorang muslim jaman jahiliyah yang diserang kaum Quraisy.

 Tentulah aku tidak sesabar itu. Aku jadi marah-marah, dan itu tentunya tidak menolong Rayyan sama sekali.

Namanya juga ART baru. Namanya juga role baru, jam kerja baru. Namanya juga kondisi baru. Semua ini memang tidak ideal. Kami semua harus bersabar. Bagi aku sulit, bagi Rayyan sulit, bagi ART sulit, semua kesulitan. Per hari ini, semuanya tumbang. Rayyan dan mbaknya sedang sakit batuk. Mas Gusti demam. Aku? Ya ginilah, jam 12 malam masih nulis panjang lebar. Sehat gak?

Ketika suasana hening seperti ini, yang muncul hanya rasa bersalah. Kenapa aku tidak bisa lebih sabar? Kenapa aku tidak bisa manage semuanya dengan baik? Kenapa aku gak bisa support Rayyan?

Tapi, hey hey hey.

Seperti yang lagi viral sekarang, semua ini milik Allah. Semua burger milik Allah. Termasuk kemampuanku. Kenapa aku gak bisa ini.. gak bisa itu.. ya emang gak bisa! Allah-lah yang ngasih kemampuan itu. Allah yang bisa bantu. Aku cuma bisa berusaha dan curhat-curhat beginilah.

Oleh karena itu, doakan kami, khususon Rayyan. Doakan anak kecil itu agar bisa survive. Semoga dia bisa kembali men-download fitur-fitur yang hilang sementara tadi. 

Mundur sedikit untuk langkah yang lebih besar ya, nak.



Comments

Popular posts from this blog

Tiga tahun tidak beli baju lebaran

Ibu yang Tidak Ideal

Refleksi Magang Jadi IRT